Museum ARMA Ubud: Jelajah Seni Pertama si Kecil

Ketika masih belum berbuntut, saya dan Ray selalu menyempatkan untuk mengunjungi museum dan galeri seni ke manapun kami bepergian bersama. Kunjungan-kunjungan itu layaknya ‘siraman rohani’ di bidang kesenian: bergerak pelan-pelan menghayati semua informasi dan keindahan yang tersaji  di ruang-ruang pamer yang kami lewati.

Namun ‘kemewahan’ itu berubah 180 derajat ketika Hatta hadir dalam perjalanan-perjalanan kami. Sudah dipastikan si kecil, yang waktu pertama kali kami ajak ke museum masih berusia satu tahun, tidak bisa betah berlama-lama di dalam ruangan.

Ketika membawa anak kecil berkunjung ke museum harus selalu ada plan A dan plan B untuk mengantisipasi jika ia bosan. Karena itu untuk kunjungan museum yang pertama kalinya sengaja kami ajak Hatta ke Museum ARMA di Ubud. Museum yang terkenal dengan koleksi lukisan-lukisan Balinya dan juga halamannya yang luas. Setidaknya Hatta memiliki pilihan untuk melihat-lihat koleksi seni di dalam ruang pameran atau berlari-larian di halaman.

Untuk memudahkan mobilitas kami, dan juga untuk menjaga agar Hatta tidak kabur-kaburan di dalam museum, ia kami gendong dalam baby backpack carrier. Untuk sepuluh menit pertama dia masih bisa anteng melihat-lihat aneka macam lukisan yang terpajang di dinding. Salah satu lukisan yang paling menarik perhatiannya adalah lukisan teras-teras sawah dengan padinya yang menguning. Cukup spektakuler. Kami pun duduk mengamati lukisan tersebut selama beberapa menit.

20140509_105050

Selepas itu Hatta lebih tertarik untuk mengeksplorasi museum dengan berjalan kaki (namun berakhir dengan si anak yang berlari ke sana ke mari, dan orangtuanya yang harus mengejar-ngejarnya). Ia kurang tertarik melihat lukisan-lukisan lainnya, dan hanya sempat berhenti sebentar untuk mengamati patung ukiran kayu berbentuk babi yang sedang menyusui anak-anaknya. Mungkin ia terkesima melihat begitu banyak ‘mimik’ pada tubuh si induk babi. Hehehe…

20140509_111717

Kunjungan di ruang lukisan berakhir singkat dan berlanjut ke halaman luar Museum ARMA yang sangat luas. Untungnya banyak patung-patung batu dan tanaman-tanaman berbuah besar di halaman luar yang berhasil menghibur Hatta. Ia puas berlarian ke mana-mana sambil sesekali menghampiri dan mengamati patung-patung yang berbeda bentuk dan ukuran.

Puas mengeksplorasi halaman museum, kami pun mengakhiri kunjungan dengan ngadem di kafe museum yang ber-setting bale bambu sembari menikmati minuman dingin. Semua kelelahan namun senang bisa beristirahat sejenak.

Kali ini saya dan Ray memang tidak bisa menikmati kunjungan museum seperti dulu ketika belum memiliki anak. Namun melihat Hatta bisa menikmati kunjungan pertamanya ke museum memberi kami kebahagiaan tersendiri. Mungkin kalau dia sudah lebih besar, akan menjadi lebih menarik baginya ketika berkunjung ke museum lagi.

Apakah kamu punya museum favorit untuk dikunjungi bersama anak-anak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s