Trekking di Campuhan Ubud

Sejak remaja, hobi saya memang beraktivitas di luar ruangan. Setelah menikah, bersepeda dan trekking bersama Ray menjadi rutinitas mingguan yang tak pernah terlewatkan. Ketika anak pertama kami lahir, tak sabar rasanya ingin mengajak dia berjalan-jalan ke tengah alam.

Ketika Hatta berusia enam bulan dan sudah bisa duduk sendiri, saya dan Ray mulai mengajaknya trekking melalui jalur yang ringan di Ubud, Bali. Berbekal gendongan ransel sewaan, kami bergantian menggendong Hatta menyusuri perbukitan Campuhan. Untuk mengantisipasi sengatan terik matahari, tidak lupa kami semua mengoleskan sunblock, memakai topi, dan memasang tudung di gendongan Hatta.

Sengaja kami pilih jalur yang tidak terlalu panjang supaya Hatta—dan kedua orangtuanya—tidak terlalu kecapekan. Tidak lupa sebelum memulai perjalanan, kami membawa perlengkapan jalan yang memadai: sepatu jalan yang nyaman, air minum yang banyak, camilan ringan penambah tenaga, serta sunblock.

IMG_5336

Campuhan merupakan trek yang cukup umum dilalui oleh wisatawan dan hanya berjarak kurang lebih 2 kilometer (satu arah). Berawal dari pinggir jalan raya di tepian Ubud, jalan setapak kecil membawa kami menyusuri perkampungan lalu menanjak hingga ke puncak bukit. Di sisi kiri dan kanan terhampar sawah-sawah hijau, vila-vila mewah dan aliran sungai. Pemandangan indah yang sangat menawan.

Jalur tersebut berakhir di sebuah restoran bale bambu yang pas untuk beristirahat, mengisi perut dengan kudapan ringan dan menghilangkan dahaga dengan minum air kelapa muda segar. Usai mengumpulkan kembali tenaga, kami memutuskan untuk berjalan pulang melalui jalur berangkat yang sama. Bagi yang lelah berjalan lagi, terdapat juga pilihan naik ojek atau mobil sewaan untuk kembali ke pusat kota Ubud, tentunya dengan tarif harga wisatawan.

Pengalaman pertama mengajak Hatta trekking terasa sangat menyenangkan. Anaknya pun anteng di dalam gendongannya dan tampak senang melihat-lihat pemandangan.

IMG_5373

Berbekal pengalaman inilah kami menjadi yakin bahwa trekking bersama anak kecil sangat memungkinkan jika dipersiapkan secara matang. Kami pun berlanjut mengajak anak-anak menyusuri jalur-jalur trekking lainnya yang lebih panjang dan seru.

(Tulisan ini merupakan saduran dari artikel saya yang pernah dimuat di TheUrbanMama.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s